Home > Education, Guru (Teacher) > Motivasi Guru dalam Mengajar: Pengertian dan Definisi Motivasi

Motivasi Guru dalam Mengajar: Pengertian dan Definisi Motivasi

29 December 2012 Leave a comment Go to comments

motivation and motivationSecara umum, pekerja tampaknya tidak akan bisa menggunakan berbagai potensi yang mereka miliki dalam mencapai tingkat kinerja yang diharapkan kecuali kalau mereka memiliki tingkat motivasi kerja yang kuat. Di sekolah, kepala sekolah sebagai pengelola sekolah perlu memperhatikan dinamika tingkat motivasi guru agar guru bisa mengembangkan potensi mereka secara optimal dan efektif. Dengan begitu, diharapkan bahwa hal tersebut akan memungkinkan pencapaian tujuan yang diinginkan oleh sekolah dan kebutuhan yang diharapkan oleh guru itu sendiri.

Pengertian dan Definisi Motivasi

The New Oxford Dictionary of English (2000: http://www.ifinger.com) mendefinisikan motivasi sebagai “the reason or reasons one has for acting or behaving in a particular way” atau secara umum bisa dikatakan sebagai the general desire or willingness of someone to do something”.  Kembali mengacu pada Cruden dan Sherman (1972: 292), mereka pada dasarnya menyatakan bahwa motivasi itu bisa didefinisikan sebagai “a state or condition of being induced to do something”.

Dalam hal ini, Torington & Hall (1991: 422) menyatakan bahwa motivasi adalah “a physiological concept related to strength and direction of behaviour”.  Di sini juga dijelaskan bahwa orang yang motivasinya tinggi akan tampak dalam perilakunya.  Selain itu, Klatt et al. (1985) dalam Kernan & Lord (1990: 196) mengemukakan bahwa motivasi adalah “an internal driving force that results in the direction, intensity, and persistence of behavior”.  Sejalan dengan itu, Lindsey (1957) mendefinisikan motivasi sebagai “the combination of forces that initiate, direct, and sustain behavior toward a goal”.  Lebih lanjut Klatt et al. dalam Kernan & Lord (1990: 196) juga mengungkapkan bahwa motivasi itu jelas merupakan suatu hasil dari kombinasi berbagai karakteristik individu tertentu dalam situasi tertentu tempat orang itu berada.  Menurut Bassano (2000: 130) motivasi adalah “set of processes that arouse, direct, and maintain human behavior toward attaining some goal”.

Robbins (2001: 155-156) mendefinisikan motivasi sebagai “the process that account for an individual’s intensity, direction, and persistence of effort toward attaining a goal”.  Hal ini dipertegas oleh Suryana Sumantri (2001: 53) yang mengungkapkan bahwa motivasi adalah proses yang sangat penting untuk mengerti mengenai mengapa dan bagaimana perilaku seseorang dalam bekerja atau dalam melakukan suatu tugas tertentu.  Oleh karena itu, untuk dapat mengarahkan perilaku produktif dan efisien, masalah motivasi ini perlu diketahui dan dikaji lebih dalam.

Dari beberapa uraian di atas, dapat dilihat bahwa motivasi itu memang sering dikaitkan dengan pengertian keinginan (wants, desire), tujuan (aims, goals), kebutuhan (needs), dorongan (drives), motif, dan insentif.  Wallen & Wallen (1978: 31) mengakui bahwa topik motivasi ini merupakan sesuatu yang sangat luas (immense).  Pada dasarnya motivasi tersebut melibatkan kebutuhan yang terdapat pada individu dan insentif atau tujuan yang harus ditemukan di luar individu.

Apabila ditelusuri lebih dalam, istilah motivasi itu sendiri merupakan turunan dari kata ‘motive’ yang berasal dari bahasa Latin ‘movere’ yang berarti to move ‘bergerak’.  Istilah ini, menurut Suryana Sumantri (2001: 53), biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu pengertian yang melibatkan tiga komponen utama, yaitu (1) pemberi daya pada perilaku manusia (energizing); (2) pemberi arah pada perilaku manusia (directing); (3) bagaimana perilaku itu dipertahankan (sustaining).

Jadi, pada dasarnya perilaku diarahkan pada suatu tujuan dalam rangka memenuhi kebutuhan individu.  Proses motivasi sebagai pengarah perilaku dapat dikatakan sebagai suatu siklus dan merupakan suatu sistem yang terdiri dari tiga elemen (Suryana Sumantri, 2001: 54).  Ketiga elemen tersebut adalah: kebutuhan (needs), dorongan (drives), dan tujuan (goals).  Ketiga elemen itu saling mendukung dan saling mempengaruhi.  Ketiga elemen tersebut bisa diuraikan sebagai berikut:

  1. Kebutuhan (needs): Kebutuhan merupakan suatu ‘kekurangan’.  Dalam pengertian keseimbangan, kebutuhan tercipta apabila terjadi ketidakseimbangan yang bersifat fisiologis atau psikologis.
  2. Dorongan (drives): Suatu dorongan dapat dirumuskan secara sederhana sebagai suatu kekurangan disertai dengan pengarahan.  Dorongan tersebut berorientasi pada tindakan untuk mencapai tujuan.
  3. Tujuan (goals)

Suatu tujuan dari siklus motivasi adalah segala sesuatu yang akan meredakan suatu kebutuhan dan akan mengurangi dorongan.  Jadi pencapaian suatu tujuan cenderung akan memulihkan ketidakseimbangan menjadi keseimbangan yang bersifat fisiologis dan psikologis.


Related articles
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: