Home > Education, Guru (Teacher) > Motivasi Guru: Teori-Teori Motivasi

Motivasi Guru: Teori-Teori Motivasi

29 December 2012 Leave a comment Go to comments

Dari berbagai macam penelitian mengenai motivasi, dapat dikembangkan berbagai macam teori mengenai manusia dan motivasi sebagai fenomena yang kompleks, yang membedakannya dengan motivasi binatang.  Stoner (1982: 177) mengelompokkan berbagai teori motivasi menjadi tiga jenis, yaitu: (a) content theory, (b) process theory, dan (c) reinforcement theory.

  1. Content theory: menitikberatkan pada ‘apa’ itu motivasi, menekankan pentingnya mengenai faktor dalam diri individu yang menyebabkan mereka berperilaku.  Teori ini berusaha untuk memuaskan kebutuhan apa yang dan apa yang mendorong mereka bertindak.
  2. Process theory: menitikberatkan pada ‘bagaimana’ dan dengan ‘tujuan apa’ individu termotivasi atau dimotivasi.
  3. Reinforcement theory: menekankan pada cara-cara bahwa perilaku itu dipelajari.  Bagaimana akibat tindakan di masa lampau mempengaruhi tindakan di masa mendatang dalam suatu siklus proses belajar.

Dalam hal ini content theory antara lain terdiri dari (1) Teori Motivasi Berprestasi (Murray, Atkinson); (2) Tiga Motif Sosial McClelland; (3) Motif Berprestasi dari Hermans; (4) Teori Hirarki Kebutuhan A. Maslow; (5) Teori ERG (Aldefer).  Seperti yang dijelaskan sebelumnya, content theory ini menitikberatkan pada ‘apa’ itu motivasi, menekankan pentingnya mengenai faktor dalam diri individu yang menyebabkan mereka berperilaku.  Teori ini berusaha untuk memuaskan kebutuhan apa yang dan apa yang mendorong mereka bertindak.

Dalam process theory antara lain diungkapkan (1) teori ‘equity’ (Adams) yang berdasarkan pada teori pertukaran sosial; di sini juga dibahas mengenai pengertian seperti hak menuntut keadilan, keseimbangan, kesetimbangan, kesepadanan, kewajaran, dan kesebandingan (Suryana Sumantri, 2001: 60); (2) Teori ekspektansi berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Tolman, Lewin, Atkinson, Vroom dengan variabel-variabel seperti expectancy, valence, outcome, instrumentality, dan choice; (3) Motivasi kerja ditinjau berdasarkan penetapan tujuan dengan perspektif kognitif (Locke, 1968) dalam Suryana Sumantri (2001: 60).

Berdasarkan teori reinforcement (imbalan atau dukungan), dinyatakan bahwa perilaku sebagian besar dipengaruhi oleh reinforcement yang diterima oleh seseorang sebagai hasil dari aktivitasnya.  Pengertian ini dapat dijelaskan melalui law of effect (Thorndike) yaitu bahwa respon yang diikuti dengan munculnya kepuasan akan cenderung muncul kembali, tetapi respon yang disertai oleh munculnya ketidaksenangan, cenderung tidak akan muncul lagi.  Dalam hal ini jenis reinforcement ada 4, yaitu: (1) positif reinforcement, (2) extinction, (3) punishment; dan (4) negative reinforcement.  Hal tersebut berkaitan dengan jadwal pemberian reinforcement yang dilakukan dengan beberapa cara: (1) interval tetap, (2) interval bervariasi, (3) ratio tetap, dan (4) ratio bervariasi.

Berikut ini adalah tabel mengenai teori motivasi dan outcome-nya di tempat kerja menurut Robert Keitner & Angelo Kinicki (2001) [ http://www.twq.com/winter00/23Keitner.pdf].

Motivation Theories and Workplace Outcomes(Robert Keitner & Angelo Kinicki, 2001)

Motivation Theories and Workplace Outcomes
(Robert Keitner & Angelo Kinicki, 2001)

Ditinjau dari perilaku manusia, Razik dan Swanson (1995: 274) menyatakan bahwa motivasi merupakan konsep inti yang digunakan oleh para ahli hubungan manusia (human relation) dalam menjelaskan perilaku manusia.  Menurut para ahli tersebut, istilah motivasi dan perilaku itu saling berkaitan karena perilaku manusia itu muncul sebagai akibat dari motivasi.  Namun, dalam hal ini harus diakui bahwa motivasi hanya merupakan salah satu kelas determinan yang paling penting dari perilaku.

Motivasi dan perilaku itu berhubungan melalui kebutuhan dan keinginan (hasrat).  Kebutuhan menciptakan tekanan (tension) yang dimodifikasi oleh budaya atau situasi seseorang sehingga menyebabkan keinginan (hasrat) tertentu.  Keinginan ini dimaknai dengan insentif positif dan negatif untuk menghasilkan respon atau tindakan tertentu.  Tindakan ini mengarah pada pencapaian tujuan atau pemuasan kebutuhan (Davis, 1967; Halloran, 1978; Stanford, 1977 dalam Razik dan Swanson, 1995: 274).

Dalam kehidupan organisasi, motivasi dianggap sebagai salah satu dari dua faktor utama yang diberikan individu terhadap kinerja atau performa kerja (task performance).  Faktor lain adalah kemampuan (ability) melaksanakan tugas tersebut.  Kemampuan di sini mencakup keterampilan fisik dan mental serta pengetahuan dan pengalaman yang diterapkan seseorang terhadap suatu pekerjaan.  Dengan demikian, motivasi, adalah “the effort with ability is applied to a task”.  Dalam kaitannya dengan motivasi, kinerja (performance) dipandang sebagai “a function of ability in interaction with motivation” (Reitz, 1987 dalam Razik dan Swanson, 1995: 275):

Performance = f(Ability x Motivation)

Lebih lanjut, Reitz (1987) dalam Razik dan Swanson (1995: 275) menekankan bahwa bila baik orang yang kemampuannya tinggi maupun rendah itu enggan melakukan usaha ke dalam kinerjanya, perbedaan dalam kinerja tersebut akan berkurang.  Perubahan dalam tingkat usaha tersebut akan menghasilkan perbedaan yang lebih besar dalam kinerja orang-orang yang kemampuannya tinggi ketimbang orang yang kemampuannya rendah.  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa motivasi merupakan unsur penting dalam kaitannya dengan perilaku organisasi.

Selain Stoner (1982: 181) yang mengelompokkan berbagai teori motivasi menjadi tiga jenis (content theory, process theory, dan reinforcement theory) yang secara singkat dibahas di atas, Campbell dan Pritchard (1983) dalam Suryana Sumantri (2001: 64) hanya mengidentifikasi dua model dasar yang berkaitan dengan motivasi orang dalam organisasi, yaitu process models dan content models.  Dalam hal ini, process models berkaitan dengan bagaimana dan mengapa motivasi itu berjalan, sedangkan content models berkaitan dengan apa saja yang memotivasi orang.  Razik & Swanson (1995: 278) menyatakan bahwa beberapa jenis motivasi yang termasuk ke dalam process models ini antara lain adalah expectancy model, behaviorist model, dan social learning model.

Dapat dikatakan bahwa process model ini menggambarkan motivasi secara umum.  Lebih lanjut, untuk memahami perilaku manusia secara lebih mendalam dapat digunakan content models dari motivasi yang terdiri dari dua fokus penelitian: (1) yang memfokuskan pada kebutuhan manusia secara umum dan (2) memfokuskan pada motivasi manusia di tempat kerja.

Pada posting berikutnya akan diuraikan lebih lanjut pada subbagian berikut mengenai teori-teori motivasi permulaan (teori hierarki kebutuhan, teori X dan Y, dan teori dua-faktor) sampai yang kontemporer (teori ERG, teori kebutuhan McClelland, teori evaluasi kognitif, teori goal-setting, teori reinforcement, equity theory, expectancy theory).

[::mar::]


Related articles

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: