Archive

Archive for the ‘Pendidikan Kejuruan’ Category

Pendidikan Sistem Ganda di SMK

7 March 2013 Leave a comment

mandalalights350Pengertian Pendidikan Sistem Ganda

Pendidikan sistem ganda sebagai alternatif pola pembelajaran di SMK ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nomor 323/U/1997, yaitu:

“Pendidikan sistem ganda selanjutnya disebut PSG adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah menengah kejuruan dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui bekerja langsung pada pekerjaan sesungguhnya di institusi pasangan, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu (pasal 1; ayat 1)”.

PSG merupakan suatu kombinasi antara penyelenggaraan pembelajaran di sekolah (SMK) dengan penyelenggaraan praktek kerja industri (prakerin) di institusi kerja pasangan (perusahaan; jasa, dagang, industri), secara sinkron dan sistematis, bertujuan menghantarkan peserta didik pada penguasaan kemampuan kerja tertentu, sehingga menjadi lulusan yang berkemampuan relevan seperti yang diharapkan.

PSG yang dikenal dengan istilah dual system atau dual education system  dapat dijelaskan sebagai berikut: “A dual education system is practiced in several countries, notably Germany, Austria and Switzerland, but also Denmark, the Netherlands and France, and for some years now in China and other countries in Asia: It combines apprenticeships in a company and vocational education at a vocational school in one course” (from Wikipedia, the free encyclopedia; 2011). Pendidikan sistem ganda yang dilaksanakan pada beberapa negara, seperti; Jerman, Austria and Swiss, juga Denmark, Belanda dan Francis, dan beberapa tahun terakhir di China dan di beberapa Negara Asia, merupakan kombinasi antara praktek kerja di perusahaan dan pelaksaan pembelajaran di sekolah kejuruan yang terintegrasikan dalam satu kegiatan.

Read more…

Principal Leadership, Teachers Competency, Teachers Motivation and Job Satisfaction: Implication on Teacher Performance (A Study on Vocational High Schools in West Java)

29 December 2012 6 comments

by: A Jajang W Mahri and M Arief Ramdhany (Universitas Pendidikan Indonesia)
Proceedings of 5th UPSI-UPI Conference on Education 2012
1st – 3rd October 2012 | Shah Alam | Malaysia

Abstract

The vocational teachers in Indonesia have not been able to demonstrate the adequate work performance.  This high and low teachers’ performance is predicted by variables that affect it, such as teacher competence, work motivation and job satisfaction, all of which are driven by the variable of principal’s leadership.  This study used survey and verification research on 366 teachers using SEM analysis.  The descriptive analysis indicates that: (a) task-oriented behavior is more prominent in the leadership of principals than relationship-oriented behavior, (b) Not all teachers have a standard of professional competence, (c) Not all teachers demonstrate aspects of the high valence and instrumentality in supporting their performance, (d) There is still a gap between the actual conditions of high employment and expectations about the job in supporting teachers’ performance, mainly due to the dissatisfaction of teachers with reward system, (e) The performance of teachers has not been fully demonstrated commitment to students and students’ learning, professional knowledge, teaching practice, leadership and school community, and continued professional learning.  Results of verification analysis show that the principal’s leadership has a direct impact on teacher competence, work motivation, and job satisfaction. However, the principal’s leadership does not imply directly to the teachers’ performance, but through teacher competence, work motivation, and job satisfaction. In this way, the principal’s leadership may act more as a driver or enabler that allows an increase in competence, motivation and job satisfaction of teachers so that in turn it would improve performance of the teacher.

Keywords: Principal Leadership – Teacher Competency – Job Motivation – Job Satisfaction – Teacher’s Performance – Vocational Schools.


Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Tuntunan Pembaharuan dalam Manajemen Pendidikan SMK

26 December 2012 Leave a comment

Untuk merespon tuntunan perubahan dalam pengelolaan pendidikan sekarang, penyelenggaraan pendidikan diarahkan pada implementasi otonomi pendidikan.  Perubahan dalam kebijakan pendidikan didasarkan pada implementasi UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan PP No. 19 Tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan.  Dalam kaitannya dengan kebijakan-kebijakan tersebut, salah satu aspek yang penting dikaji adalah yang berhubungan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan. Tony Bush (2008) dalam artikelnya berjudul From Management To Leadership: Semantic or Meaningful Change?, mengungkapkan bahwa manajemen pendidikan dalam konteks pembaharuan pendidikan masih difokuskan pada “manajemen” dan bukan pada kepemimpinan.  Hal ini mengindikasikan betapa pentingnya kepemimpinan yang tangguh dalam inovasi pendidikan untuk mencapai atau mewujudkan pendidikan yang bermutu.  Pemahaman ini dapat disimak lebih jauh dalam kutipan di bawah ini :

Education management was still a relatively new field of study and practice in the UK at the time of Education Reform Act (ERT)  1988, The Field focused on “management” and not leadership.  This emphasis very much reflected the business word and its use in education illustrated the ‘policy borrowing’ characteristics of an emerging field (Tony Bush, 2008:271).

  Read more…

Tantangan Pendidikan Kejuruan dalam Persaingan Global

26 December 2012 1 comment

Perkembangan masyarakat industri dan pasca industri membuat banyak negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, menjadi sekaligus berada di bawah empat proses perkembangan sosial-ekonomi yang mendasar.  Keempat proses ini sama-sama menimbulkan dampak yang demikian kuat sehingga dapat mengubah seluruh tatanan kehidupan masyarakat sejak abad ke-21 yang umumnya dikenal sebagai permulaan era globalisasi.

Istilah globalisasi sudah memasyarakat di Indonesia sejak awal dekade 1990 an seiring dengan popularitas tulisan Alvin Toffler, Powershift (1990), I dan dua tulisan John Naisbitt, Megatrens 2000 (1990) dan Global Paradox (1994). Globalisasi yang dapat diartikan sebagai proses saling berhubungan yang mendunia antar individu, bangsa, negara dan berbagai organisasi kemasyarakatan, didukung oleh alat komunikasi yang berteknologi tinggi dan semakin kuatnya pengaruh politik, ekonomi, dan nilai-nilai sosial-budaya.  Globalisasi dalam berbagai bentuknya telah mengubah  kehidupan masyarakat di seluruh dunia.  Era globalisasi menimbulkan tantangan besar yang harus dihadapi setiap masyarakat baik dalam masa kini maupun dalam masa datang.

Pengaruh utama dari proses-proses globalisasi adalah keterbukaan, demokratis, dan persaingan dalam konteks kerja sama, dominasi kecerdasan intelektual (rasio atau nalar), dan sekularisme.  Proses asimilasi sudah mulai terlihat sejak dekade terakhir  abad ke-20 (Naisbit, 1995:88) sebagai bagian dari globalisasi, pengaruh Asia, terutama Asia Timur, Selatan dan Tenggara menjadi semakin kuat dan mendunia. Perubahan mendasar yang dibawa proses ini adalah percaya diri Asia yang semakin kuat dan pengaruh budaya Asia ke Barat dan Bagian dunia lainnya.  Beberapa pengaruh utama dari proses sistem informasi yang semakin canggih adalah semakin sarat-derasnya arus informasi, perkembangan kecerdasan intelektual dan emosional, simplifikasi, efisiensi, dan efektivitas dalam komunikasi, bahasa menjadi kebutuhan pokok, kemandirian memperoleh pengetahuan, dan perubahan sifat lembaga pendidikan (Tampubolon, 2001:11).

Read more…

Pengertian Pendidikan Kejuruan

26 December 2012 4 comments

Pendidikan kejuruan dapat diartikan dari berbagai segi.  Bila seseorang belajar cara bekerja, maka orang tersebut mendapatkan pendidikan kejuruan.  Byram & Wenrich (1956: 50) menyatakan bahwa dari sudut pandang sekolah, pendidikan kejuruan mengajarkan orang cara bekerja secara efektif.   Dengan demikian, pendidikan kejuruan berlangsung apabila individu atau sejumlah individu mendapatkan informasi, pemahaman, kemampuan, keterampilan, apresiasi, minat dan/atau sikap, yang memungkinkan dia untuk memulai atau melanjutkan suatu aktivitas yang produktif.

Menurut Evans (dalam Muliaty, 2007: 7) pendidikan kejuruan merupakan bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada satu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lain.  Sebelumnya, Hamalik (2001:24) menyatakan bahwa pendidikan kejuruan adalah suatu bentuk pengembangan bakat, pendidikan dasar keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan yang mengarah pada dunia kerja yang dipandang sebagai latihan keterampilan.  Lebih lanjut, Djohar (2007:1285) mengemukakan bahwa pendidikan kejuruan adalah suatu program pendidikan yang menyiapkan individu peserta didik menjadi tenaga kerja profesional dan siap untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.