Home > Education > Konsep Peran dalam Persepsi Peran

Konsep Peran dalam Persepsi Peran

27 December 2012 Leave a comment Go to comments
|| Juni 2005 ||

Pendahuluan

preview

Istilah persepsi peran atau role perception berawal dari konsep persepsi dan teori peran (role theory).  Dalam Perilaku Organisasi, topik role perception berkaitan dengan aspek individu juga dengan aspek kelompok dan organisasi serta lingkungan.  Di bawah ini pertama-tama akan diuraikan mengenai konsep persepsi dan teori peran.  Selanjutnya akan dibahas mengenai konsep role perception itu sendiri serta aspek-aspek yang berkaitan dengan konsep tersebut.

Konsep Persepsi

Persepsi dapat didefinisikan sebagai “a process by which individuals organize and interpret their sensory impressions in order to give meaning to their environment” (Robbins, 2001: 121).  Namun demikian, sesuatu yang dipersepsikan seseorang bisa saja berbeda dari realitas objektifnya.  Kajian persepsi ini penting karena perilaku orang-orang itu didasarkan pada persepsi mereka mengenai apa itu realitas, bukan pada realitas itu sendiri.  Dunia sebagaimana yang dipersepsi adalah dunia yang penting secara perilaku.  Individu bisa melihat sesuatu yang sama, namun bisa saja mempersepsinya secara berlainan.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi.  Faktor-faktor tersebut bisa terdapat pada perceiver, pada objek itu sendiri atau target yang dipersepsi, atau pada konteks situasi saat persepsi itu berlangsung.

Perceiver

Bila seseorang melihat suatu target dan berupaya menafsirkan yang dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik personal masing-masing.  Dengan demikian, faktor-faktor yang berkaitan dengan si perceiver akan mempengaruhi apa yang dipersepsinya.  Beberapa karakteristik personal yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, motif, minat, pengalaman masa lalu, dan harapan.

Orang bisa melihat suatu hal yang sama, tetapi sikap mereka terhadap hal tersebut bisa saja berbeda.  Motif atau kebutuhan yang tidak terpuaskan akan mendorong seseorang dan bisa menimbulkan pengaruh yang kuat terhadap persepsi orang tersebut.  Fokus perhatian seseorang tampaknya dipengaruhi oleh minat atau ketertarikan orang tersebut.  Karena minat setiap orang itu berbeda-beda, apa yang dilihat seseorang dalam situasi tertentu bisa berbeda dengan apa yang dipersepsi orang lain.  Hal tersebut berlaku pula untuk pengalaman masa lalu, yaitu ketika seseorang mengaitkan segala sesuatu dengan segala sesuatu yang bisa dia hubungkan.  Objek atau kejadian yang belum dialami sebelumnya akan lebih terlihat ketimbang yang sudah dialami sebelumnya.  Terakhir, harapan (expectation) dapat mengubah persepsi seseorang dalam hal bahwa apa yang orang itu lihat adalah apa yang orang itu harapkan untuk dilihat.

Target

Karakteristik target yang diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsi.  Orang yang “heboh” akan lebih nampak dalam suatu kelompok ketimbang yang diam saja.  Demikian pula halnya dengan orang yang sangat menarik dan sangat tidak menarik.  Gerakan, suara, ukuran, dan atribut lain dari suatu target akan membentuk cara seseorang melihatnya.  Karena target itu tidak dilihat secara terpisah, hubungan antara target dengan latar-belakangnya juga mempengaruhi persepsi, seperti kecenderungan kita membuat sesuatu yang dekat dan serupa menjadi satu kelompok.  Beberapa objek yang dekat satu sama lain akan cenderung dipersepsikan menjadi satu objek ketimbang terpisah.  Akibat kedekatan fisik atau waktu, orang sering meyamakan objek atau kejadian yang sebenarnya tidak berkaitan satu sama lain.

Situasi

Konteks saat seseorang melihat objek atau kejadian sangatlah penting.  Elemen-elemen sekitar lingkungan akan mempengaruhi persepsi seseorang.  Faktor yang mempengaruhi situasi atau konteks adalah waktu, setting pekerjaan, dan setting sosial.

Lebih lanjut, persepsi kita terhadap orang tentunya berbeda dari persepsi kita terhadap benda mati karena kita membuat kesimpulan mengenai tindakan orang yang tidak kita lakukan terhadap benda mati.  Yang jelas, manusia sebagai benda hidup memiliki keyakinan (beliefs), motif (motives), atau tujuan (intention).  Akibatnya, bila kita mengamati orang, kita berupaya mengetahui alasan mengapa mereka bertingkah laku dalam cara tertentu.  Persepsi dan penilaian kita terhadap tindakan seseorang akan sangat dipengaruhi oleh asumsi yang kita buat mengenai keadaan internal orang tersebut.

Hal tersebut dijelaskan dengan attribution theory, yaitu bila individu mengamati perilaku, mereka berusaha menentukan apakah hal tersebut disebabkan secara internal atau eksternal.  Robbins (2001: 125) menyatakan bahwa attribution theory ini menawarkan suatu penjelasan mengenai cara kita menilai orang lain dalam cara yang berlainan, bergantung pada konotasi yang kita anggap disebabkan oleh suatu perilaku tertentu.  Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang diyakini berada pada kontrol personal seseorang.  Perilaku yang disebabkan secara eksternal dipandang sebagai akibat dari penyebab luar; artinya, orang tersebut dipandang harus berperilaku tertentu karena situasi.

Namun demikian, penentuan itu sangat bergantung pada tiga faktor: (1) distinctiveness: mengacu pada apakah individu menunjukkan perilaku yang berlainan dalam situasi yang berbeda; (2) consensus: perilaku yang menunjukkan jika seseorang menghadapi situasi yang serupa akan merespon dengan cara yang sama; dan (3) consistency: yaitu tingkat konsistensi dalam tindakan-tindakan seseorang.

Dalam menilai orang lain, ada beberapa cara-pintas yang sering digunakan.  Cara pertama adalah selective perception, yaitu orang secara selektif menafsirkan apa yang dilihatnya berdasarkan minat, latar belakang, pengalaman, dan sikapnya.  Cara kedua adalah halo effect, yaitu menarik kesan umum mengenai seseorang berdasarkan satu karakteristik tunggal.  Cara ketiga, contrast effect, merupakan evaluasi dari karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh perbandingan dengan orang lain yang peringkatnya lebih tinggi atau lebih rendah dalam beberapa karakteristik yang sama.  Cara selanjutnya adalah projection, yaitu mempertalikan karakteristik kita sendiri terhadap orang lain.  Cara terakhir adalah stereotyping, yaitu menilai seseorang berdasarkan persepsi seseorang dari kelompok orang tersebut.

 =|||= Klik di sini untuk Referensi =|||=

Lihat juga:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: