Home > Education, Guru (Teacher) > Persepsi Peran Guru

Persepsi Peran Guru

29 December 2012 Leave a comment Go to comments

Churchill (2001: 247) menyatakan bahwa peran atau role itu “represents activities and behaviors that are to be performed by any person who occupies that role”.  Dengan demikian peran guru di sekolah menunjukkan aktivitas dan perilaku yang akan dilakukan oleh setiap guru yang bekerja di sekolah tersebut.  Posisi guru di sini dilingkupi oleh sejumlah role set atau role partners, yaitu orang-orang atau lingkungan yang berkepentingan dengan cara guru bekerja.  Di lingkungan sekolah, mereka antara lain adalah: sekolah itu sendiri, kepala sekolah, siswa dan orang tua siswa, dan keluarga guru (suami/istri, anak, dan tetangga).

Dalam menjalankan perannya sebagai guru di sekolah, peran seorang guru itu ditentukan oleh suatu proses yang terdiri dari tiga tahap.  Tahap pertama adalah tahap ketika role partners mengungkapkan harapan-harapan mereka terhadap peran guru tersebut (lihat role expectation).  Tahap kedua adalah tahap ketika seorang guru mengembangkan persepsi perannya, yang seringkali dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu (1) role ambiguity; (2) role conflict, dan (3) role inaccuracy.  Tahap terakhir adalah saat guru menunjukkan perilaku tertentu terhadap situasi yang dihadapinya berdasarkan persepsi peran yang dikembangkan pada tahap 2.

Persepsi Peran Guru

Tiga Tahap Pengembangan Persepsi Peran Guru


Dalam kalimat pertanyaan, konsep role expectations, role ambiguity, role conflict, dan role inaccuracy dari sudut guru dapat dirumuskan sebagai berikut:

Role expectations: Apakah role partner mengharapkan saya untuk terlibat dalam aktivitas (mengajar) tersebut?

Role ambiguity: Apakah saya mengetahui apa yang diharapkan role partner dalam kaitannya dengan aktivitas tersebut?

Role conflict: Apakah terdapat ketidaksesuaian antara role partners ini dalam kaitannya dengan kinerja aktivitas tersebut?

Role inaccuracy: Apakah persepsi guru mengenai tuntutan itu diterapkan dengan benar oleh guru tersebut?

Menurut Churchill (2001: 251), pengembangan persepsi peran yang tidak tepat bisa diakibatkan oleh (1) batas-batas lingkungan organisasi, (2) kinerja seseorang yang mempengaruhi orang lain pada posisi lain, dan (3) dituntut untuk melakukan peran baru yang sebelumnya belum dilakukan.  Ketepatan persepsi peran dapat dikatakan sebagai tingkat persepsi seseorang mengenai perannya itu dirasakan tepat dan hal tersebut sesuai dengan yang diyakini atasannya.

Dengan kata lain, seorang guru memiliki persepsi peran yang tepat bila dia secara benar memahami apa yang diharapkan role partner saat melakukan tugasnya.  Bila seorang guru tidak memiliki persepsi peran yang tepat, hal tersebut akan mengarah pada meningkatnya role ambiguity dan role conflict.  Ketidaktepatan persepsi peran akan muncul bila seorang guru tidak memiliki persepsi yang benar mengenai hubungan antara dimensi aktivitas dan kinerja, atau antara dimensi kinerja dan imbalan.

Karena guru menghadapi beberapa role partner, ini berarti guru menghadapi beberapa harapan yang berlainan.  Hasil tersebut akan meningkatkan tingkat ambiguitas peran yang dipersepsi guru.  Ambiguitas peran akan mengganggu guru dalam beberapa aspek pekerjaannya atau dalam menghadapi role partner.  Guru seringkali merasakan konflik antara kebijakan atau harapan sekolah dengan tuntutan siswa.

Dalam hal ini, konflik peran akan muncul bila seseorang memegang beberapa peran, bila orang tersebut tidak bisa memenuhi dua atau lebih peran pada waktu yang bersamaan, dan bila role partner memiliki harapan yang berlainan mengenai bagaimana suatu pekerjaan itu dilakukan.  Adapun ambiguitas peran akan muncul bila seseorang meyakini bahwa dirinya tidak memiliki informasi yang cukup untuk melakukan kerja seperti yang seharusnya, bila dia tidak yakin atas apa yang seharusnya dikerjakan pada situasi tertentu, dan bila dia tidak mengetahui apa yang diharapkan orang lain dari dirinya.

Churchill (2001: 255) menegaskan bahwa dalam takaran yang kecil, konflik dan ambiguitas peran ini bisa berguna bagi individu dan organisasi.  Lebih lanjut Churchill (2001: 255) menyatakan bahwa terdapat beberapa konsekuensi dari konflik peran dan ambiguitas peran tersebut, yang dikelompokkan menjadi psychological consequences dan behavioral consequences.  Konsekuensi psikologis adalah bahwa:

  • Saat seseorang mempersepsi harapan-harapan yang bertentangan dengan rekan kerjanya mengenai kinerja, orang tersebut akan menjadi “orang yang setengah-setengah”.
  • Orang akan mempersepsi kurangnya informasi yang dibutuhkan untuk bekerja seadanya.
  • Konflik peran yang dipersepsi akan mempengaruhi kepuasan kerja ekstrinsik.
  • Ambiguitas peran menimbulkan dampak negatif terhadap kepuasan kerja intrinsik.

Adapun konsekuensi perilaku yang mungkin terjadi adalah bahwa:

  • Konflik peran dan ambiguitas peran yang dipersepsi dapat menimbulkan perilaku yang mengganggu (dysfunctional).
  • Kepuasan yang rendah akan menambah jumlah personalia, yang dikendalikan oleh kondisi ekonomi dan alternatif pekerjaan yang tersedia.
  • Kepuasan dan kinerja berhubungan secara positif, walaupun pengaruh terhadap sifat hubungan tersebut berubah.

Di dunia pendidikan, konsekuensi dari ketidaktepatan persepsi peran seorang guru itu akan menyebabkan:

  • Ketidakpuasan kerja (job dissatisfaction);
  • Turunnya tingkat motivasi kerja;
  • Rendahnya kinerja guru dalam melakukan tugasnya.

~~mar158~~

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: