Home > Education, Guru (Teacher) > Motivasi Guru: Two-Factors Theory

Motivasi Guru: Two-Factors Theory

31 December 2012 Leave a comment Go to comments

Teori ini juga disebut motivation-hygiene theoryRobbins (2001: 158) menyatakan bahwa two-factor theory ini berkenaan dengan faktor-faktor intrinsik yang berkaitan dengan kepuasan kerja dan faktor-faktor ekstrinsik yang berkaitan dengan ketidakpuasan.  Teori ini diajukan oleh psikolog Fredrick Herzberg.  Dalam keyakinannya bahwa suatu hubungan individu untuk bekerja itu bersifat mendasar dan bahwa sikap (attitude) seseorang terhadap pekerjaan itu dapat sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan, Herzberg meneliti pertanyaan, “Apa yang diinginkan orang dari pekerjaannya?”  dia meminta orang untuk menggambarkan secara rinci situasi yang mereka rasakan sangat baik dan buruk mengenai pekerjaan mereka.  Jawaban tersebut kemudian ditabulasi dan dipisahkan.

Dari jawaban tersebut, disimpulkan bahwa jawaban yang diberikan seseorang bila dia merasa baik terhadap pekerjaannya itu sangat berbeda dari jawaban yang diberikan saat dia merasa buruk.  Beberapa karakteristik cenderung selalu berkaitan dengan kepuasan kerja dan yang lainnya pada ketidakpuasan kerja.  Faktor intrinsik, seperti pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, dan prestasi, tampaknya berkaitan dengan kepuasan kerja.  Orang yang merasa buruk mengenai pekerjaannya cenderung mengaitkan faktor-faktor tersebut dengan dirinya sendiri.  Sebaliknya orang yang tidak puas cenderung menyebutkan faktor-faktor ekstrinsik, seperti pengawasan, upah, kebijakan perusahaan, dan kondisi pekerjaan.

Lebih lanjut Herzberg menegaskan bahwa lawan-kata dari kepuasan (satisfaction) itu bukanlah ketidakpuasan (dissatisfaction) seperti yang diyakini banyak orang.  Menghilangkan karakteristik yang tidak-memuaskan dari suatu pekerjaan itu tidak membuat suatu pekerjaan menjadi memuaskan.  Di sini Herzberg mengajukan bahwa temuannya itu menunjukkan adanya dual continuum (skala ganda): lawan dari “Satisfaction” adalah “No Satisfaction” dan lawan dari “Dis-satisfaction” adalah “No Dissatisfaction”.

2-views-of-satisfaction

Menurut Herzberg, faktor-faktor yang mengarah pada kepuasan kerja itu terpisah dan berbeda dari faktor-faktor yang mengarah pada ketidakpuasan kerja.  Dengan demikian, manajer yang ingin mengurangi faktor-faktor yang bisa menciptakan ketidakpuasan kerja itu akan menghasilkan kedamaian atau ketentraman tetapi bukan motivasi.  Para manajer itu akan mententramkan bawahannya ketimbang memotivasinya.  Akibatnya, kondisi sekitar pekerjaan seperti kualitas pengawasan, upah, kebijakan organisasi, kondisi tempat kerja fisik, hubungan dengan orang lain, dan keamanan kerja itu disebut Herzberg sebagai hygiene factors.  Lebih lanjut Robbins (2001: 159) menegaskan bahwa jika faktor-faktor tersebut mencukupi, orang tidak akan tidak-puas; mereka juga tidak akan merasa puas.  Jika organisasi ingin memotivasi orang dalam pekerjaannya, Herzberg menyarankan penekanan faktor-faktor yang berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri atau pada outcomes yang secara langsung dihasilkan dari pekerjaan tersebut, seperti peluang naik pangkat, peluang untuk pertumbuhan pribadi, pengakuan, tanggung jawab, dan pencapaian prestasi.  Karakteristik ini ternyata dirasakan bisa memberikan imbalan secara intrinsik.


Related articles

[::mar-2005::]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: