Home > Management > Kemampuan Manajerial

Kemampuan Manajerial

25 December 2014 Leave a comment Go to comments
Contributor: Amos

Di sini, kemampuan manajerial mencakup tujuh aspek, yaitu (1) Kepemimpinan, (2) Pemecahan masalah, (3) Komunikasi, (4) Keterampilan Manajerial, (5) Pengalaman, (6) Kewiraswastaan, dan (7) Motivasi.

Kepemimpinan

Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan kekuasaan pemimpin dalam memperoleh alat untuk mempengaruhi para pengikutnya.  Terdapat beberapa sumber dan bentuk kekuasaan yaitu kekuasaan paksaan, legitimasi, keahlian, referensi, informasi dan hubungan (Veithzal Rivai, 2003:4‑5).

Kepemimpinan bukan saja bertanggung jawab agar orang-orang bekerja namun juga mengendalikan kebanyakan alat pemuas kebutuhan manusia dalam organisasi

(Komaruddin Sastradipoera, 2002 : 92).  Sikap dan gaya serta perilaku kepemimpinan manajer sangat besar pengaruhnya terhadap organisasi perusahaan (Tuty Lindawati: 2001).  Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan, sedangkan fungsi kepemimpinan adalah sesuatu di mana seorang manajer sedang memotivasi bawahan, mengarahkan kegiatan orang lain, memilih saluran komunikasi yang paling efektif, atau memecahkan konflik antar anggota (Stephen P. Robbins, 2002 : 3).

Kepemimpinan adalah bagian penting dari manajemen, tetapi tidak sama dengan manajemen, karena kepemimpinan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang-orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran (Hani Handoko, 1997 : 294), sedangkan menurut G.R. Terry (1986 : 343) Kepemimpinan adalah hubungan di mana satu orang yakni pemimpin mempengaruhi fihak lain untuk bekerjasama dalam rangka mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan untuk mencapai hal yang diinginkan oleh pemimpin tersebut.

Beberapa teori yang mendasari tentang kepemimpinan antara lain :

(1) Teori Sifat (Trait Theory).

Teori ini menggunakan prosedur induktif untuk menjelaskan kepemimpinan berdasarkan ciri dan karakteristik para pemimpin yang berhasil.   Keith Davis dalam Miftah Thoha (2003 : 287), merumuskan empat sifat umum yang mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi :

  1. a) Kecerdasan.

Hasil penelitian pada umumnya membuktikan bahwa pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibanding dengan yang dipimpin.  Namun demikian, yang sangat menarik dari penelitian tersebut ialah pemimpin tidak bisa melampaui terlalu banyak dari kecerdasan pengikutnya.

  1. b) Kedewasaan dan kekuasaan sosial.

Pemimpin cenderung menjadi matang dan mempunyai emosi yang stabil, serta mempunyai perhatian yang luas terhadap aktivitas-aktivitas sosial.  Dia mempunyai keinginan menghargai dan dihargai.

  1. c) Motivasi diri dan dorongan berprestasi

Para pemimpin secara relatif mempunyai dorongan motivasi yang kuat untuk berprestasi.  Mereka bekerja berusaha mendapatkan penghargaan yang intrinsik dibandingkan yang ekstrinsik.

  1. d) Sikap-sikap hubungan kemanusiaan.

Pemimpin-pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan para pengikutnya dan mampu berpihak kepadanya.

(2) Teori Kelompok

Teori kelompok ini beranggapan bahwa, supaya kelompok bisa mencapai tujuan-tujuannya, maka harus terdapat suatu pertukaran yang positif di antara pemimpin dan pengikut-pengikutnya, yang melibatkan pula konsep-konsep sosiologis tentang keinginan-keinginan mengembangkan peranan.

(3). Model Kepemimpinan (Leadership Type)

Pendekatan model ini berpendapat bahwa terdapat empat buah tipe pemimpin (Komaruddin Sastradipoera, 2002 :93). Pendapat hampir senada juga dikemukakan oleh (Veitzhal Rivai, 2003: 61‑62) perbedaannya adalah dengan tidak mengemukakan tipe pemimpin autokratik.  Tipe-tipe kepemimpinan tersebut adalah:

  • Diktatorial

Pemimpin ini berbuat apa yang disuruhnya agar tidak kehilangan alat pemuas kebutuhan ( termasuk keamanan jabatan, promosi, kenaikan upah).

  • Autokratik

Memotivasi bawahannya dengan menyediakan pemuas kebutuhan.

  • Laissez-faire (liberal) atau kendali bebas

Pemimpin pasif, kekuasaan ada pada bawahan, struktur organisasi longgar.

  • Demokratik

Dalam tipe pemimpin ini menggunakan pengambilan keputusan kooperatif sehingga bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja, dan dapat mengarahkan diri sendiri.

Tentang kepemimpinan demokratis ini Allah SWT. Berfirman dalam Asy-syura (42) ayat 38 yang terjemahannya “Dan (bagi) orang-orang yang menerima seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan bermusyawarah antarmereka, dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka”.

Model Kepemimpinan Kontijensi dari Fiedler.

Model ini berisi hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan.  Adapun situasi yang menyenangkan itu diterangkan Fiedler dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi empiris berikut ini:

(1)   Hubungan pemimpin anggota. Hal ini merupakan variabel yang paling penting di dalam menentukan situasi yang menyenangkan tersebut.

(2)   Derajat dari struktur tugas.  Dimensi ini merupakan variabel yang paling tinggi di dalam menentukan situasi yang menyenangkan.

(3)   Posisi kekuasaan pemimpin yang dicapai lewat otoritas formal.  Dimensi ini merupakan dimensi yang amat penting ketiga di dalam situasi yang menyenangkan.

Suatu situasi akan dapat menyenangkan pemimpin, jika ketiga dimensi di atas mempunyai derajat yang tinggi.  Dengan kata lain, suatu situasi akan menyenangkan jika :

  • pemimpin diterima oleh para pengikutnya (derajat dimensi pertama tinggi).
  • tugas-tugas dan semua yang berhubungan dengannya ditentukan secara jelas (derajat dimensi kedua tinggi).
  • penggunaan otoritas dan kekuasaan secara formal diterapkan pada posisi pemimpin (derajat dimensi ketiga juga tinggi).

Jika yang timbul sebaliknya, menurut Fiedler akan tercipta suatu situasi yang tidak menyenangkan bagi pemimpin, selain itu pula bahwa kombinasi antara situasi yang menyenangkan dengan gaya kepemimpinan akan menentukan efektivitas kerja (Miftah Thoha, 2003 : 293).  Kesimpulan dari Konsep kepemimpinan kontingensi Fiedler adalah perilaku kepemimpinan yang efektif tidak berpola pada salah satu gaya tertentu, melainkan dimulai dengan mempelajari situasi tertentu pada suatu saat tertentu (Veitzhal Rivai, 2003: 61‑62).

Pemecahan Masalah

Dalam menjalankan perannya sebagai pengambil keputusan, manajer harus mampu menangani masalah-masalah yang terjadi dalam organisasi.  Sebagai penanganan masalah, manajer mengambil tindakan korektif sebagai tanggapan terhadap masalah-masalah yang tidak diduga sebelumnya (Stephen P. Robbins, 2002: 4).

Pengambilan keputusan merupakan penetapan alternatif pemecahan masalah terbaik dari sejumlah alternatif yang ada.  Menurut Veitzhal Rivai, (2003 : 48) Proses pengambilan keputusan berlangsung sebagai berikut:

  1. Menghimpun data melalui pencatatan atau penelitian.
  2. Menganalisis data
  3. Menetapkan keputusan
  4. Operasionalisasi keputusan menjadi tindakan
  5. Selama berlangsung kegiatan sebagai pelaksanaan kegiatan akan diperoleh data baru.

Menurut John Robert Beishline (dalam Hasibuan, 2003 : 60), pemecahan masalah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

(1)     Manajemen konvensional (tradisional).  Masalah yang dihadapi manajer diselesaikan berdasarkan tindakan-tindakan yang diambilnya pada masa lalu dan selalu berdasarkan tradisi.  Dalam hal ini pengalaman manajer memegang peranan penting, pemecahan masalah dengan cara ini kurang efektif dan efisien dan hanya bersifat untung-untungan saja.

(2)     Manajemen sistematis.  Manajer memecahkan masalah yang dihadapinya berdasarkan pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain yang menghadapi masalah yang kira-kira sama.  Penyelesaian yang dipergunakan orang lain dengan berhasil baik, dipakai sebagai pedoman dan dipraktekkannya.

(3)     Manajemen ilmiah (scientific management).  Manajer dalam memecahkan masalah yang dihadapinya terlebih dahulu mempelajarinya dengan seksama, membuat suatu patokan untuk bekerja, mengumpulkan data, informasi dan fakta, menetapkan pemecahan sementara, dan memeriksa kembali pemecahan tersebut.

Proses Komunikasi

Perilaku manusia dapat dipengaruhi oleh beberapa cara bentuk penyampaian informasi, maka hanya melalui komunikasi kebutuhan manusia dasar dapat terpuasi (Komaruddin Sastradipoera, 2002 :95).  Komunikasi adalah pengiriman pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan dimaksud dapat dipahami (Veitzhal Rivai, 2003: 374).  Tidak ada kelompok yang dapat eksis tanpa komunikasi, komunikasi adalah pentransferan dan pemahaman makna (Stephen P. Robbins, 2002: 310).  Menurut Indriyo Gitosudarmo (1997: 195), komunikasi adalah merupakan suatu proses penyampaian ide, konsep, gagasan atau informasi dari si pengirim kepada si penerima informasi.  Informasi yang diterima oleh si penerima diharapkan sama dengan informasi yang disampaikan atau diberikan oleh si pengirim.

Dalam organisasi, pencapaian tujuan dengan segala proses membutuhkan komunikasi yang efektif, sehingga pemimpin menyampaikan informasi berupa perintah, atau bawahan menyampaikan informasi laporan lisan maupun tulisan sehingga mencapai sasaran dengan persepsi yang sama (Veitzhal Rivai, 2003: 138‑139).

Fungsi komunikasi menjalankan empat fungsi utama di dalam suatu kelompok, atau organisasi yaitu: pengendalian (kontrol, pengawasan), motivasi, pengungkapan emosional, dan informasi (Stephen P. Robbins, 2002: 311). Komunikasi bertindak untuk mengendalikan perilaku anggota dengan beberapa cara.  Setiap organisasi mempunyai hirarki wewenang dan garis panduan formal yang harus dipatuhi oleh karyawan.  Komunikasi membantu perkembangan motivasi dengan menjelaskan kepada para karyawan untuk memperbaiki kinerja yang di bawah standar.

Proses komunikasi adalah langkah-langkah antara satu sumber dan penerima yang menghasilkan pentransferan dan pemahaman makna.  Unsur pokok komunikasi adalah sebagai berikut: (1) sumber komunikasi, (2) pengkodean, menterjemahkan informasi menjadi serangkaian simbol untuk komunikasi (3) pesan, (4) saluran, (5) pendekodean atau interpretasi pesan menjadi sesuatu yang berarti, (6) penerima, dan (7) umpanbalik.  Proses komunikasi digambarkan sebagai berikut:

Model Proses Komunikasi

Model Proses Komunikasi

Pendapat senada dikemukakan oleh (Veitzhal Rivai, 2003: 374) dengan menambahkan unsur gangguan dalam unsur pokok proses komunikasi tersebut.

Komunikasi yang efektif dan komunikatif merupakan hal yang penting bagi manajer karena :

(1)     Komunikasi merupakan alat bagi manajer untuk melaksanakan fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi kepemimpinan dan fungsi pengendalian.

(2)   Komunikasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh setiap manajer di setiap harinya dan memakan waktu yang paling banyak dari waktu yang tersedia Indriyo Gitosudarmo (1997 : 203).

Mintzberg (dalam Indriyo Gitosudarmo 1997: 203) mengemukakan konsep tentang peran komunikasi dalam tiga jenis peran manajerial :

(1)   Berperan antar pribadinya, manajer bertindak sebagai simbol dan pemimpin serta sebagai koordinator unit organisasinya.  Dia akan bereaksi dengan bawahan, pelanggan, pemasok dan rekan setingkatnya, serta kalau perlu dengan atasannya.

(2)   Berperan informasionalnya, manajer akan selalu mencari informasi dari rekan setingkat, bawahan, pemasok dalam organisasinya, serta kontak pribadi lainnya mengenai segala upaya yang dapat mempengaruhi pekerjaan dan tanggungjawabnya.

(3)   Berperan keputusannya, manajer menangani gangguan dalam unit organisasinya dan menangani pengalokasian sumberdaya kepada bagian-bagian yang membutuhkannya.  Keputusan mungkin diambil sendiri atau melibatkan bawahan.

Ada tiga unsur pokok yang mengidentifikasi komunikasi yang relevan dengan ilmu perilaku organisasi yaitu:

  1. Sifat informasi, dipengaruhi banyak atau sedikitnya informasi, cara penyajian dan pemahaman informasi.
  2. Komunikasi Organisasi, dari sudut pandang ini komunikasi merupakan suatu proses sosial yang mempunyai relevansi terluas dalam memfungsikan setiap kelompok, organisasi atau masyarakat.
  3. Komunikasi antar pribadi (Veitzhal Rivai, 2003: 375-376).

Keterampilan Manajerial

Robert Katz dalam Stephen P. Robbins (2002 : 4) dan Veitzhal Rivai (2003: 33) mengatakan keterampilan manajerial yang efektif  adalah :

(1)   Keterampilan teknis, yaitu kemampuan menerapkan pengetahuan khusus atau keahlian spesialisasi.

(2)   Keterampilan manusiawi, yaitu kemampuan bekerjasama, memahami dan memotivasi orang lain, baik perorangan maupun dalam kelompok.

(3)   Keterampilan konseptual, yaitu kemampuan mental untuk menganalisis dan mendiagnosis situasi rumit.

Menurut Hani Handoko (1997: 36-37) keterampilan-keterampilan manajerial umumnya dibutuhkan untuk menjadi seorang manajer yang efektif antara lain :

(1)   Keterampilan konseptual (conceptual skills) adalah kemampuan mental untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan seluruh kegiatan organisasi.  Ini mencakup kemampuan manajer untuk melihat organisasi sebagai suatu keseluruhan dan memahami hubungan antar bagian yang saling bergantung, serta mendapatkan, menganalisa dan menginterpretasikan informasi yang diterima dari bermacam-macam sumber.

(2)   Keterampilan kemanusiaan (human skills) adalah kemampuan untuk, memahami, dan memotivasi orang lain, baik sebagai individu ataupun kelompok.  Manajer membutuhkan keterampilan ini agar dapat memperoleh partisipasi dan mengarahkan kelompoknya dalam pencapaian tujuan.

(3)   Keterampilan administratif (administrative skills) adalah seluruh keterampilan yang berkaitan dengan perencanaan, pengorganisasian, penyusunan kepegawaian dan pengawasan.  Keterampilan ini mencakup kemampuan untuk mengikuti kebijaksanaan dan prosedur, mengelola dengan anggaran terbatas, dan sebagainya.  Keterampilan administratif adalah suatu perluasan dari keterampilan konseptual.  Manajer melaksanakan keputusan-keputusan melalui penggunaan keterampilan administratif.

(4)   Keterampilan teknik (technical skills) adalah kemampuan untuk menggunakan peralatan-peralatan, prosedur-prosedur, atau teknik-teknik dari suatu bidang tertentu.

Pengalaman

Seseorang menjadi ahli dan terampil di bidangnya dapat disebabkan oleh pengetahuan yang dimiliki baik yang diperoleh melalui proses pendidikan formal maupun pendidikan non formal ataupun melalui pengalaman, yaitu aktivitas atau keseluruhan kegiatan yang telah dilakukan atau dialami pada masa lalu.  Pengalaman menjadi sangat penting bagi seseorang, karena pengalaman menjadi proses pembelajaran yang dapat membentuk perilaku.

Pengalaman barulah dapat melihat dan menangkap kenyataan dalam kesadaran, tetapi belum tentu mampu menyusunnya dalam bentuk sebab akibat.  Dengan pengalaman yang berulang-ulang memungkinkan seseorang mengetahui tentang sesuatu , termasuk gejala dan peristiwa.  Dengan demikian mengetahui sesuatu dengan kemampuan berpikir asosiatif (Komaruddin Sastradipoera, 2005:16)

Melalui pengalaman, seseorang menjadi lebih mudah untuk melaksanakan tugas yang sama dan mempunyai potensi untuk menghadapi segala permasalahan yang bersangkut paut dengan bidang keahliannya (Stephen P. Robbins, 2002 : 66). Membiasakan diri untuk belajar dari pengalaman, dapat menambah kemampuan seseorang yang diwujudkan dalam bentuk perilaku (Suparman Sumahamijaya, dikutip oleh Suryana, 2003 : 9).

Kewirausahaan

Mintzberg dalam Stephen P. Robbins (2002: 4) mengidentifikasi wiraswasta berperan pada pengambilan keputusan, para manajer memprakarsai dan mengawasi proyek-proyek baru yang akan menyempurnakan kinerja organisasi.  Lebih lanjut Stephen P. Robbins (2002: 5) mengatakan wirausaha (entrepreneur) adalah mencari kesempatan dalam organisasi dan lingkungannya serta memprakarsai proyek-proyek yang menimbulkan perubahan.

Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumberdaya untuk mencari peluang menuju sukses (Suryana, 2003: 1).  Kreatif adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan cara-cara baru dalam pemecahan masalah dan menemukan peluang (thinking new thing), sedangkan inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka pemecahan masalah dan menemukan peluang (doing new thing).

Proses kreatif dan inovatif hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jiwa dan sikap kewirausahaan, yaitu orang yang percaya diri (yakin, optimis, dan penuh komitmen), berinisiatif (energik dan percaya diri), memiliki motif berprestasi (berorientasi hasil dan berwawasan ke depan), memiliki jiwa kepemimpinan (berani tampil berbeda), dan berani mengambil risiko dengan penuh perhitungan (Suryana, 2003 : 2)

Seperti telah dikemukakan di atas, kewirausahaan mempelajari tentang nilai kemampuan, dan perilaku seseorang dalam berkreasi dan berinovasi.  Oleh sebab itu, objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan seseorang yang diwujudkan dalam bentuk perilaku.  Menurut Soeparman Soemahamidjaja (dikutip oleh Suryana, 2003: 9), kemampuan seseorang yang menjadi objek kewirausahaan meliputi:

(1)   Kemampuan merumuskan tujuan hidup (usaha).  Dalam merumuskan tujuan hidup (usaha) tersebut perlu perenungan, koreksi, yang kemudian berulang-ulang dibaca dan diamati sampai memahami apa yang menjadi kemauannya.

(2)   Kemampuan memotivasi diri untuk melahirkan suatu tekad kemauan yang menyala-nyala.

(3)   Kemampuan untuk berinisiatif, yaitu mengerjakan sesuatu yang baik tanpa menunggu orang lain, yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan berinisiatif.

(4)   Kemampuan berinovasi, yang melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah dibiasakan berulang-ulang akan melahirkan motivasi.  Kebiasaan inovatif adalah desakan dalam diri untuk selalu mencari berbagai kemungkinan baru atau kombinasi baru apa saja yang dapat dijadikan peranti dalam menyajikan barang dan jasa bagi kemakmuran masyarakat.

(5)   Kemampuan untuk membentuk modal uang atau barang (capital goods).

(6)   Kemampuan untuk mengatur waktu dan membiasakan diri untuk selalu tepat waktu dalam segala tindakan melalui kebiasaan yang selalu tidak menunda pekerjaan.

(7)   Kemampuan mental yang dilandasi agama.

(8)   Kemampuan untuk membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari pengalaman yang baik maupun menyakitkan.

Motivasi

Setiap organisasi mempunyai tujuan dan tujuan tersebut akan tercapai dengan berbagai upaya memanfaatkan atau menggunakan berbagai sumberdaya yang ada secara optimal.  Intensitas keberhasilan mencapai tujuan tersebut sangat dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal.  Yang termasuk faktor internal organisasi adalah faktor-faktor manajemen (managerial factors) antara lain persepsi dan motivasi dari orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut, disamping faktor organisasi (organizational factors) yaitu struktur dan desain organisasi yang ada.  Sedangkan faktor eksternal menyangkut faktor lingkungan (environmental factors) yang berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kinerja individu merupakan dasar dari kinerja organisasi, oleh karena itu perilaku organisasi akan banyak dipengaruhi oleh perilaku individu dan atau perilaku kelompok dari individu-individu yang ada dalam organisasi tersebut.  Pemahaman perilaku individu menjadi sangat strategis dalam upaya untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan, sebab persepsi, motivasi dan kemampuan berinteraksi menentukan kinerja (Gibson; Ivancevich; Donnelly, 1996: 124).  Hal tersebut berarti bila salah satu faktor rendah, maka tingkat prestasi akan rendah walaupun faktor lainnya tinggi.

Prestasi individu memberikan kontribusi pada prestasi kelompok, dan prestasi kelompok memberikan kontribusi pada prestasi organisasi.  Dalam organisasi yang sangat efektif, manajemen membantu menciptakan sinergi positif, yang berarti bahwa keseluruhan akan lebih besar artinya dibanding jumlah dari bagian-bagian.  Oleh karena itu kadang-kadang kinerja yang luar biasa akan dapat dicapai hanya dengan membuat perubahan yang signifikan terhadap organisasi secara menyeluruh.  Seperti yang disebutkan oleh (Gibson; Ivancevich; Donnelly: 1996), bahwa perubahan organisasi adalah upaya terencana dari manajemen untuk meningkatkan seluruh kinerja individu, kelompok, dan organisasi dengan mengubah struktur, perilaku dan proses.  Apabila perubahan diimplementasikan dengan benar, individu dan kelompok akan memberikan kinerja yang lebih efektif.  Komitmen, perencanaan dan usaha evaluasi untuk meningkatkan kinerja merupakan potensi meraih keberhasilan.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa persepsi, motivasi dan kemampuan akan berinteraksi menentukan kinerja, ini berarti untuk dapat memperoleh kinerja yang baik, maka seseorang atau individu perlu diberi motivasi untuk berprestasi.  Kebanyakan manajer atau pemimpin harus memotivasi orang atau kelompok orang yang berbeda-beda dan dalam banyak hal tidak dapat diperkirakan.

Keragaman timbul dari pola-pola perilaku yang berbeda yang dalam keadaan tertentu berkaitan dengan kebutuhan dan tujuan.  Sedangkan pengertian kebutuhan adalah efisiensi atau kekurangan yang alami individu pada suatu waktu tertentu (Gibson; Ivancevich; Donnelly, 1996: 186).  Kekurangan tersebut dapat berupa fisik (misalnya, kebutuhan akan makan), psikologis (misalnya, kebutuhan untuk beraktualisasi diri, atau sosilogis (misalnya kebutuhan untuk berinteraksi sosial).  Kebutuhan-kebutuhan merupakan pemicu dari respon perilaku.  Implikasinya adalah bila kebutuhan ada, maka individu menjadi lebih mudah terpengaruh kepada upaya memotivasi dari para manajer atau pimpinan.  Oleh karena itu motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang atau individu yang menimbulkan dan mengarahkan perilaku (Gibson; Ivancevich; Donnelly, 1996 : 185).  Sedangkan definisi motivasi menurut Stephen P. Robbins (2002 : 166), kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual.

Teori motivasi terbagi ke dalam dua kategori: Teori kepuasan dan teori proses (Gibson; Ivancevich; Donnelly, 1996 : 186).  Teori kepuasan memusatkan perhatian pada faktor-faktor di dalam individu yang mendorong, mengarahkan, mempertahankan dan menganalisa bagaimana perilaku didorong, diarahkan, dipertahankan dan dihentikan.

Teori motivasi yang termasuk dalam kategori teori kepuasan adalah Teori motivasi yang berpendapat bahwa manusia berperilaku karena ingin memenuhi kebutuhan dasarnya.  Sedikitnya ada tiga kebutuhan pokok umum (Komaruddin Sastradipoera, 2002: 92) :

  1. Motif fisiologis: Kebutuhan pokok manusia paling primitif yang melandasi motivasi yang meliputi sandang, pangan, papan, dan tidur.
  2. Motif sosiologis: Kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, dan kebutuhan untuk diterima orang disekitarnya.
  3. Motif psikologis: Kebutuhan untuk diakui, berprestasi, status dan lain-lain.

[::dbi:]]

Categories: Management Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: