Home > Language > Tata Bahasa: Sintaksis, Morfologi, Semantis, dan Fonologi

Tata Bahasa: Sintaksis, Morfologi, Semantis, dan Fonologi

Bahasa memiliki seperangkat aturan atau sistem yang dikenal para penuturnya.  Sistem inilah yang menentukan struktur apa yang dituturkan atau ditulisnya.  Struktur ini disebut grammar atau tata bahasa.  Tata bahasa menurut Paul Robert (1964: 1) adalah ‘the description of the sentences of a language’.  Dia menekankan bahwa langkah pertama dalam mempelajari tata bahasa ini adalah menelaah kalimat, baik dalam tuturan maupun tulisan.

Secara garis besar tata bahasa dapat dibagi menjadi tiga bagian.  Pertama adalah komponen sintaksis dan morfologi yang menelaah kalimat dari hubungan unsur-unsur pembentuknya.  Yang kedua adalah komponen semantis yang menelaah penafsiran makna unsur-unsur perubahan komponen sintaksis di atas.  Adapun yang terakhir adalah komponen fonologi yang menelaah bunyi yang mewakilinya.

Pada dasarnya kalimat dalam bahasa Inggris dibedakan menjadi dua macam, yaitu kalimat inti (kernel sentences) dan transformasi (transforms).  Kalimat inti adalah kalimat yang paling mendasar dan esensial, sedangkan transformasi merupakan struktur lain yang diturunkan dari kalimat inti untuk menghasilkan lebih banyak variasi kalimat.

Kalimat inti terdiri atas satu subyek dan satu predikat.  Dengan kata lain, para pendukung tata bahasa transformasi mengemukakan kalimat inti itu terdiri atas frasa nomina (FN) dan frasa verba (FV), yang dirumuskan dengan K → FN + FV.

Suatu kalimat inti dapat ditransformasikan ke dalam bentuk variasi kalimat, misalnya:

(1) Dillinger had sued Tom
(2) i    Had Dillinger sued Tom?
    ii   Dillinger had not sued Tom
    iii  Tom had been sued by Dillinger
    iv   It was Dillinger who had sued Tom
(3)  Was it not Dillinger who had sued Tom?

(Huddleston, 1984: 11)

Pada kalimat di atas dapat dilihat bahwa (2) dan (1) dibandingkan dalam hal perbedaan variasi: (i) merupakan variabel interogatif sedangkan (1) deklaratif; (ii) adalah variasi negatif sedangkan (1) positif; (iii) adalah variabel pasif sedangkan (1) aktif; (iv) merupakan variasi konstruksi it-cleft sedangkan (1) bukan; dan (3) adalah perbandingan dengan (1) dalam gabungan semua variasi.

Dari contoh di atas, (1) diklasifikasikan sebagai kalimat inti, sedangkan (2) dan (3) sebagai transformasi.  Kalimat (2ii) merupakan transformasi negatif (T-neg) dari (1) dengan penambahan not setelah verba bantu (auxiliary verb) has.  Namun, perubahan kalimat negatif tidaklah terbatas pada kelas verba saja, melainkan juga pada kelas-kelas sintaksis lainnya, seperti frasa nomina atau frasa adjektiva atau kelas kata lainnya.

Pada umumnya kalimat negatif dibentuk dengan memodifikasi frasa atau kelas verba.  Kenyataannya, negasi tia hanya digunakan dalam modifikasi frasa verba saja, melainkan dalam modifikasi frasa nomina, adjektiva, dan kelas kata lainnya.  Dalam menelaah negasi, harus dibedakan antara klausa koordinasi maupun subordinasi, juga hubungan antara keduanya, karena hal tersebut menentukan proses perubahan kalimat negatif.

Categories: Language Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: