Home > Language > Etimologi Arah Mata Angin

Etimologi Arah Mata Angin

Sejak dahulu sampai sekarang, manusia menggunakan mata angin untuk menentukan arah.  Pedoman sederhana untuk menentukan arah adalah dengan melihat kedudukan dan pergerakan benda-benda langit seperti matahari dan gugusan bintang yang dilihat dari permukaan bumi.  Perputaran bumi pada porosnya (kutub utara dan kutub selatan) menjadi dasar bagi manusia untuk melihat matahari dan benda langit lainnya terbit dari timur dan tenggelam di barat.  Perputaran bumi tersebut mengakibatkan adanya medan magnet (magnetic field) sehingga jarum magnetik dari kompas selalu menghadap ke utara dan selatan.

Pertanyaannya adalah: (1) mengapa posisi terbitnya matahari itu disebut ‘Timur’; (2) mengapa posisi terbenamnya matahari disebut ‘Barat’; dan (3) mengapa arah ‘Utara’ ditempatkan di atas dan arah ‘Selatan’ di bawah pada peta atau pada alat navigasi.  Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan dengan etimologi bahasa atau dengan letak geografis dan pengaruh budaya setempat.

Dalam bahasa Indonesia, arah empat mata angin (four cardinal points of the compass atau cardinal directions) disebut utara, timur, selatan, dan barat.  Arah utara disepakati sebagai patokan awal penentuan arah.  Posisi berdiri seseorang adalah menghadap utara bila tangan kanan direntangkan menuju tempat matahari terbit dan tangan kiri direntangkan ke depan (membentuk sudut 45 derajat atau sudut 180 derajat bila menghadap timur tempat matahari terbit dengan kedua tangan direntangkan ke pinggir).  Di sini, arah utara ditunjukkan dengan tangan kiri dan selatan dengan tangan kanan.

Kata ‘utara’ ini diadopsi dari bahasa Hindi ‘uttara’ (yang berarti berasal dari daerah utara wilayah India) yang berkaitan dengan bahasa Sansekerta narakah (neraka atau tangan kiri), yang dahulunya berasal dari bahasa Proto Indo-Eropa *ner– yang berarti “kiri” atau “bawah” (kiri dikaitkan dengan bawah, sedangkan kanan dikaitkan dengan atas, right? Right!  Jadi, di sini, *ner– berkembang menjadi *nurtha– yang dalam bahasa Indo-Jerman menjadi norð, norðr, nort, noord, nord dan north.  Sekali lagi, utara dalam bahasa Indonesia berkaitan dengan kata pinjaman karena sebelumnya arah utara ini disebut dengan laut (bahasa Melayu) atau lot atau lor, lér, dan kalér (bahasa Jawa dan Sunda).  Sufiks ‘ka’ di sini menunjukkan arah ‘ke’.  Penduduk di pulau Jawa seringkali mengacu arah utara dengan laut, karena mereka sering berlayar ke pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi yang secara geografis arahnya berada di utara pulau Jawa.

Selanjutnya, ‘selatan’ berkaitan dengan letak geografis orang Melayu, terutama yang berada di Malaysia yang seringkali mengacu ke Selat Malaka oleh orang-orang Semenajung Malaya (Malay Peninsula).  Karena di daerah selatan Semenanjung Malaya, terdapat banyak pulau dan selat, maka daerah selatan dari posisi itu disebut ‘Selatan’, terkait dengan posisi pulau Sumatera dan Kalimantan.  Berbeda dengan budaya Jawa, arah selatan disebut ‘kidul’.  Kidul di sini diperkirakan mengacu pada penguasa laut selatan pulau Jawa bernama Ratu Kidul.  Laut di sebelah selatan pulau Jawa ini merupakan samudera luas yang, menurut kepercayaan tertentu, dikuasai oleh Ratu Kidul.

Dalam bahasa Sansekerta, selatan disebut ‘dakshin’ atau ‘daksina’ yang berarti ‘sebelah kanan’.  Arah ini terkait dengan posisi seseorang menghadap ke timur (yang dalam bahasa Sansekerta disebut ‘purva’ atau ‘purwa’ yang berarti ‘awal’ matahari terbit).  Bila digabungkan, istilah tersebut menjadi ‘purwadaksina’ (dari posisi awal, berputar ke kanan).  Berkaitan dengan bahasa Jawa, timur disebut ‘wetan’ yang bermakna ‘wiwitan’ (awal terbitnya matahari), dan barat disebut ‘kulon’ (tempat terbenam atau matinya matahari).

Pada intinya, arah timur-barat senantiasa dikaitkan dengan terbit dan terbenamnya matahari.  Secara sederhana arah timur disebut ‘timur’ karena berdasarkan sejarahnya di sebelah timur pulau Jawa pada abad ke-14 ada kerajaan yang bernama Timur atau Timor di gugusan kepulauan Timor (Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur atau Timor Leste).  Lalu, mengapa tempat terbenamnya matahari disebut barat?  Jawabannya sederhana: karena di sebelah barat nusantara ini terdapat kerajaan Bharat (India) atau Bhārat Gaṇarājya.

Categories: Language Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: